Laman

pengunjung

Senin, 08 Oktober 2012

ANALISIS USAHA PETERNAKAN KAMBING PE (Peranakan Etawa)






I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Ternak kambing khususnya kambing Peranakan Etawa (PE), merupakan salah satu sumberdaya penghasil bahan makanan berupa daging dan susu yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, dan penting artinya bagi masyarakat. Seiring hal tersebut peternakan kambing memiliki peluang yang cukup besar dengan semakin sadarnya masyarakat akan kebutuhan gizi yang perlu segera dipenuhi.            Kambing perah merupakan komoditas baru di Indonesia yang kemungkinan memiliki prospek pengembangan yang baik. Walaupun belum terbukti secara Ilmiah, anggapan yang berkembang di masyarakat adalah bahwa susu kambing dapat menyembuhkan berbagai penyakit pernafasan, seperti asma dan TBC. Oleh karena itu permintaan cenderung semakin meningkat dan harga yang masih cukup tinggi. Di sisi lain kambing perah dapat berperan ganda sebagai peghasil susu dan daging. Dari kebutuhan investasi, usaha kambing pernah memerlukan investasi jauh lebih kecil dibandingkan dengan sapi perah dan disamping ini relatif lebih mudah dalam manajemen.
Kambing perah yang banyak dikembangkan di Indonesia umumya kambing peranakan Etawah (PE), yang umumnya masih lebih dominan sebagai sumber daging dibandingkan dengan sumber air susu. Susu kambing belum dikenal secara luas seperti susu sapi padahal memiliki komposisi kimia yang cukup baik (kandungan protein 4,3% dan lemak 2,8%) relatif lebih baik dibandingkan kandungan protein susu sapi dengan protein 3,8% dan lemak 5,0% (Sunarlim dkk, 1992). Disamping itu dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing lebih mudah dicerna, karena ukuran molekul lemak susu kambing lebih kecil dan secara alamiah sudah berada dalam keadaan homogen (Sunarlim dkk, 1992) (Sinn, 1983).
            Produktivitas biologis kambing cukup tinggi, 8-28% lebih tinggi dibandingkan sapi  (Devendra, 1975). Jumlah anak per kelahiran (litter size) bervariasi 1 sampai dengan 3 ekor dengan tingkat produksi susu yang melebihi dari kebutuhan untuk anaknya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai produk komersial dan tidak mengganggu proses reproduksinya. Biaya investasi usaha ternak kambing relatif rendah dan pemeliharaannya pun jauh lebih mudah dibanding sapi.
Pengembangan usaha kambing PE mempunyai peluang pasar yang cukup tinggi di Kabupaten tanah datar dan kabupaten limapuluh kota karena daya dukung kesesuaian iklim dan aksesibilitas ke berbagai daerah konsumen. Tingginya impor dan masih rendahnya produksi susu sapi dalam negeri, merupakan pasar yang perlu dijajagi.
            Dari aspek produksi daging, permintaan daging kambing di Indonesia maupun di dunia juga mengalami peningkatan pesat selama 10 tahun terakhir ini. Indonesia mengkonsumsi kambing sebagai salah satu sumber protein hewani yang utama setelah sapi dan ayam. Pasokan daging kambing relatif terbatas karena usaha peternakan kambing di Indonesia di dominasi oleh usaha rumah tangga dengan skala pemilikian 4 – 10 ekor.
Permintaan kambing untuk konsumsi khususnya seperti restaurant dan hotel-hotel masih dipenuhi oleh impor. Hal ini disebabkan daging kambing dalam negeri kurang sesuai untuk masakan yang dikehendaki oleh restaurant dan hotel tersebut.
Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota memiliki keunggulan komparatif dalam usaha peternakan kambing karena ketersediaan lahan luas diikuti oleh kemampuan penduduk dalam menangani ternak ini. Perkembangan teknologi dalam bidang peternakan yang pesat memungkinkan untuk mencapai produktivitas lebih dari yang ada pada saat ini.
Dalam suatu usaha peternakan sangat dibutuhkan analisa tentang usaha tersebut, karena suatu usaha akan dapat berjalalan dengan baik apabila usaha memiliki perhitungan finansial yang benar dan rinci.
 Biaya tetap yang diperlukan dalam pegembangan ternak kambing PE meliputi bangunan kandang, pembelian bibit betina dan jantan, sewa lahan, pembuatan gudang, dan lain-lain. Sedangkan biaya operasional yang diperlukan dan dikeluarkan setiap tahunnya mencangkup biaya replacement stock, pakan, obat, tenaga kerja, peralatan dan lain-lain dengan total kebutuhan pertahun.     
Komponen penerimaan terdiri dari penjualan susu, penjualan betina afkir, penjualan jantan afkir, penjualan anak betina, penjualan anak jantan, dan penjualan pupuk.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan analisa perhitungan beternak kambing PE itu menjadtidak baik adalah:
1.      Letak kandang terhadap sumber pakan hijauan. Letak kandang kambing PE yang jauh dari sumber pakan tentu membutuhkan biaya yang lebih daripada yang kandang yang dekat dengan sumber pakan
2.      Pembiayaan di daerah tempat kandang. Biaya untuk membuat infrastruktur kandang tentunya berbeda untuk tiap daerah. Biaya meliputi harga bangunan dan upah tukang. Demikian juga upah pegawai anak kandang sudah pasti berbeda
3.       Daya serap pasar akan produk ternak kambing PE. Harga susu kambing setiap daerah bervariasi. Bahkan di daerah tertentu belum tentu kita dapat menjual susu kambing.
4.       Tujuan beternak berbeda dengan tujuan yang dianalisa dalam referensi. Beternak kambing PE untuk kontes tentu akan berbeda dengan beternak kambing PE untuk susu dan pedaging.
5.       Harga kambing PE dalam realita berbeda dengan harga dalam analisa referensi. Pada umumnya harga kambing PE dalam analisa lebih murah dibandingkan dengan harga yang sekarang. Dapat juga perbedaan harga ini disebabkan perbedaan harga tiap daerah.
Berdasarkan hal diatas, maka penulis perlu melakukan suatu penelitian dengan judul ANALISIS USAHA PETERNAKAN KAMBING PE (PERANAKAN ETAWA ) DI KABUPATEN TANAH DATAR DAN KABUPATEN LIMAPULUH KOTA.
1.2. Perumusan Masalah
Dari penjelasan diatas maka timbul pertanyaan :
1.    Apa saja penyebab berkurangnya pendapatan usaha peternakan kabing PE dikabupaten tanah datar dan kabupaten limapuluh kota ?
2.    Bagaimana pola pengelolaan usaha peternakan kambing PE yang dilakukan oleh masyarakat di Kabupaten Limapuluh Kota dengan PT Reanindo Perkasa di Kabupaten  Tanah Datar selama ini ?
3.    Bagaimana pola pengelolaan usaha yang tepat untuk meningkatkan hasil produksi komoditi kambing PE di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar ?
1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang diuraikan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengidentifikasi yang menjadi penyebab berkurangnya produksi hasil peternakan kambing PE
2.      Mencarikan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi oleh peternak kambing PE di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Tanah Datar.

II. TINJAUAN PUSTAKA

            Ternak kambing merupakan jenis ternak yang paling banyak diusahakan petani di kabupaten tanah datar dan kabupaten limapuluh kota , karena sekitar 80% petani di desa tersebut memiliki ternak kambing. Kontribusi dari usahatani ternak kambing cukup besar, yakni urutan ke dua setelah tanaman. Kontribusi dari usahatani kambing masih dapat ditingkatkan dengan peningkatan skala usaha yang diikuti dengan perbaikan teknologi. Seperti disampaikan oleh Pranaji dan Syahbuddin (1992 ), usahatani ternak kambing dan domba dapat sebagai alternatif dalam pengentasan kemiskinan petani di perdesaan, ternak kambing dijadikan sebagai komoditas utama dan titik ungkit bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani setempat. Sesuai dengan tujuan pemeliharaan bahwa ternak kambing sebagai usaha sambilan, maka tenaga kerja yang dicurahkan untuk pemeliharaan ternak, seperti mengembalakan, mencari hijauan, membersihkan kandang, dan memberi pakan-minum untuk memanfaatkan waktu
luang diantara usahatani tanaman pangan
Gambar yang diambil di PT REANINDO PERKASA. Kabupaten tanah datar
Tabel 1.  Keragaan Produktivitas Kambing Karakteristik
                                                                                                                                                                                                                                  

Litter size (ekor/kelahiran)
2,25
Berat lahir (kg)
3
Kematian anak pra-sapih (%)
8
Pertumbuhan anak harian (g)
-
- pra sapih
135
- lepas sapih
100
Menurut Triwulaningsih (1986) produksi susu kambing PE sekitar 0,498 – 0,692 liter per ekor per hari dengan produksi tertinggi dicapai 0,868 liter. Menurut Devandra (1983) rataan produki susu kambing Etawah berkisar 0,7 – 1,0 kg per hari dengan rata-rata waktu laktasi 140 hari. Dengan sistem manajemen yang baik maka periode laktasasi dapat dilakukan sampai 9 bulan dengan puncak produksi pada bulan pertama kedua, dapat dilakukan sampai 9 bulan dengan puncak produksi pada bulan pertama dan bulan kedua, dapat mencapai produksi 4 liter/ekor/hari
Populasi kambing di Indonesia saat ini mencapai 7 juta ekor. Jumlah ini 76% diantaranya berada di Pulau Jawa. Kambing umumnya dipelihara dengan cara yang sangat sederhana di setiap rumah tangga pedesaan. Setiap keluarga pada umumnya memiliki 4 – 6 ekor kambing yang dipelihara dengan dikandangkan di halaman rumah dan digembalakan di areal bekas panen atau lahan beras. Pakan yang diberikan setiap hari berasal dari rumput yang ada di seputar rumah.
            Jenis kambing yang saat ini banyak dipelihara adalah kambing lokal dan kambing etawa. Jenis kambing etawa merupakan jenis yang memiliki produktivitas tinggi dan daya tahan yang Iebih baik. Kambing betina jenis ini mencapai kematangan seksual pada umur 8 – 9 bulan. Masa kehamilan selama 5 bulan dan masa Iaktasi 4 bulan. Dengan peemeliharaan yang baik, kambing dapat dikawinkan lagi 2 – 3 bulan lagi setelah melahirkan. Setiap melahirkan kambing mampu menghasilkan 2 – 3 ekor anak, sehingga dalam dua tahun dapat menghasilkan 6 – 9 ekor anak. Kambing dewasa jenis ini memiliki berat karkas bersih 18 – 20 kg untuk kambing jantan dan 15 – 18 untuk betina. Masa subur kambing betina setelah berusia 5 tahun
Susu Kambing
                Susu adalah cairan berwarna putih yang disekresikan oleh ambing pada binatang mamalia betina, untuk bahan makanan dan sumber gizi bagi anaknya (Winarno, 1993). Susu adalah cairan yang bernilai gizi tinggi, baik untuk manusia maupun hewan muda dan cocok untuk media tumbuh mikroorganisme karena menyediakan berbagai nutrisi (Susilorini dan Sawitri, 2006). Susu segar yang  berkualitas  baik  mempunyai ciri-ciri tidak memiliki aroma yang kuat,ada sedikit rasa manis dari laktosa (gula susu), warnanya putih sampai sedikit kekuningan (akibatlarutan zat karoten dalam lemak susu), belum terpisahnya lemak dengan bagian susu yang lain,tidak terdapat lendir, serta tidak ada penggumpalan protein susu yang sering terjadi jika susu mulai mengalami proses pengasaman (Gaman dan Sherrington, 1992). Susu kambing tidak mengandung kuman TBC (tuberkulosis) dan bahan allergen  sehingga ebih aman penggunaannya sebagai bahan  makanan, pengganti ASI (air susu ibu). Produksi susu  kambing  lebih cepat diperoleh  dimana kambing  telah dapat  berproduksi pada usia 1.5 tahun,sedangkan sapi baru dapat berproduksi pada usia 3 - 4 tahun (Susilorini dan Sawitri, 2006).Berdasarkan hasil Penelitian
















III.METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten LimaPuluh Kota Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa di kabupaten  limapuluh kota terdapat banyak peternak kambing PE peneliti mengambil salah satu tempat dkabupaten limapuluh kota di daerah pulutan tanjung pati yang mana diambil satu  kelompok tani yang mana kelompok ini bernama CIBOLUK FARM kelompok tani ini menyediakan bibit, susu, dan pedaging.
Waktu penelitian di kelompok tani CIBOLUK yag terdapat di Pulutan Nagari Koto Tuo Kecamatan Harau  ini akan dilakukan selama 5 hari untuk mengambil data primer pada tanggal 1- 5 oktober.
Lokasi pengambilan data penelitian ke dua dalaksanakan pada peternakan kambing PE yang berada di pulutan usaha peternakan ini dilakukan oleh bapak MUKLIS yang kambing sekarang sekitar 15 ekor
Waktu penelitian di peternakan kambing bapak muklis ini dilakukan pada tanggal 6-10 oktober.
Selanjutnya penelitian dilakukan di PT REANINDO PERKASA yang terdapat di Kenagarian Barulak Kabupaten Tanah Datar yang sudah begitu besar ,PT REANINDO PERKASA  mengelola usaha peternakan kambing PE dengan jumlah kambing tetap sebanyak 60 ekor sebagai kambing pembibitan dan untuk produksi susu,dan sekitar 90 ekor kambing yang akan dijual sebagai bibit kambing yang terdapat di PT ini berasal dari daerah jawa.  
Penelitian  di PT REANINDO PERKASA akan dilakukan pada tanggal 11-15 oktober.
3.2 Cara pelaksanaan penelitian
Cara pelaksanaan penelitian ini yaitu dengan cara peneliti mengunjungi peternak yang telah dipilih untuk menjadi sampel  yang ada di wilayah kabupaten lima puluh kota. peternak ini akan diwawancarai mengenai sekitar topik penelitian.  Selain wawancara langsung ke peternak. Dan peneliti juga mendatangi langsung PT REANINDO PERKASA di kabupaten tanah datar sebagai perbandingan usaha yang dilakukan oleh perusahaan dengan peternak biasa. Jumlah kambing yang akan dijadikan sampel disetiap tempat tersebut sebanyak 4 ekor.



3.3   Tahapan pelaksanaan penelitian
Pelaksanaan penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu:















Pembuatan Laporan Penelitian
 
 

 

3.4   Metode dan teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penelitian kepustakaan (Library Research) dan penelitian lapangan (Field Research).
a.    Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan ini bertujuan untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahulu yang berhubungan dengan objek telaahaan.
b.    Penelitian lapangan
Penelitian untuk memperoleh data sebagai penunjang dalam penelitian ini dilakukan penelitian lapangan (field research) untuk mendapatkan data primer guna akurasi terhadap hasil yang dipaparkan, yang dapat berupa pendapat dari informan, responden, yang relevan dengan objek yang di teliti. Selain itu, peneliti juga melakukan observasi langsung ke lapangan.
Adapun alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan wawancara dan pengisian kuisioner. Wawancara dilakukan terhadap responden serta narasumber. Untuk mengetahui lebih mendalam tentang hal-hal yang ingin di temukan jawaban nantinya, yaitu menggunakan teknik wawancara dengan mengadakan komunikasi langsung kepada responden dan narasumber, dan juga menggunakan pedoman wawancara guna mencari jawaban atas masalah dan kendala mengenai kurangnya analisis usaha dari peternak  biasa dibandingkan yang dilaksanakan oleh perusahaan.
Untuk pengambilan data melalui kuisioner dilakukan dengan cara diberikan langsung kepada peternak yang telah dipilih sebagai sampel untuk mewakili para peternak komoditi kambing PE di kabupaten limapuluh kota. Angket atau kuisioner ini berisikan daftar pertanyaan tentang masalah-masalah yang mungkin dihadapi peternak dalam proses usaha peternakan kambing PE. Waktu pengambilan data akan dilakukan selama lima hari di masing-masing tempat.
3.5         Teknik analisis dan metode pengujian
Sedangkan analisa data mengunakan analisa deskriptif, dimana hasil-hasil pengamatan akan dijelaskan secara finansial, yang ditunjang dengan data-data di lapangan berupa data teknis dan data pendukung. Untuk hasil wawancara mendalam yang telah dilakukan dengan berbagai responden, karena tidak dapat disajikan dalam bentuk statistik, maka akan disajikan dalam bentuk penjelasan atau narasi yang disertai dengan foto-foto dan dokumen-dokumen pelengkap lainnya.
Tabel 2. Estimasi Input-Output Usaha Ternak kambing Perah (rupiah/tahun)
Biaya dan penerimaan
Perusahaan
Kelompok
 Tani
Perorangan
Jumlah (Rp)
Jumlah (Rp)
Jumlah (Rp)
Mulai awal



1.Pembuatan kandang



2.Pembelian ternak



- Betina



- Pejantan



3.Sewa lahan ( m2)



4.Gudang







Biaya tetap
1.Penyusunan Kandang




2.Penyusunan Gudang







Biaya variabel



1. Replacement



2.Pakan



3.Obat-obatan



4.Tenaga Kerja



5. Peralatan



6. Lain-lain







Output



1.Penjualan susu



2.Penjualan betina afkir



3.Penjualan jantan afkir



4.Penjualan anak jantan



5.Penjualan anak betina



6.Penjualan pupuk









DAFTAR PUSTAKA
Moeljanto, Rini Damayanti dan Wiryanta, B. T. Wahyu. 2002. Khasiat dan   Manfaat Susu Kambing Agromedia Pustaka, Depok
Mulyono, S. 2003. Teknik Pembibitan Kambing dan Domba. Cetakan Ke -V.         Penerbit PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Murtidjo, B.A. 2001. Memelihara Kambing sebagai Ternak Potong dan Perah.       Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Pranaji, T. dan Z. Syahbuddin. 1992. Menempatkan Kambing dan Domba sebagai             alternative pengurangan tingkat kemiskinan di perdesaan. Pros. Saresehan      Usaha Ternak Kambing dan Domba Menyongsong Era PJPT II, pp.: 134-          140.James Blakely. David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan Indonesian Edition.        Gadjah MadaUniversity Press
Sarwono, B. 2005. Beternak Kambing Unggul. Cetakan Ke – VIII. Penerbit PT     Penebar Swadaya, Jakarta.
Setiawan, T dan A. Tanius. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa.        Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sodiq, A. 2002. Kambing Peranakan Etawa Penghasil Susu Berkhasiat Obat.         Cetakan Pertama. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Sosroamijoyo, M. S. 1991. Ternak Potong dan Kerja. Cetakan Ke-11. CV Yasaguna, Jakarta.
Sodiq, A. dan Abidin, Z., 2002. Kambing Peranakan Etawa; Penghasil Susu      Berkhasiat Obat Agromedia Pustaka, Depok.
Winarno, F. G., 1996. Daging dan Susu Sebagai Sumber Gizi Prima.           Jurnal Peternakan dan Lingkungan Fakultas  Peternakan Universitas                 Andalas, Padang



KUISIONER

Keadaan  umum  responden
Nama Responden              :  .............
Jenis kelamin          :  ..........................
Umur                      :  ..........................
Alamat                   :  ..........................
1.      Pendidikan terakhir yang ditempuh Bapak/Ibu?
a.       SD            
b.       SMP        
c.        SMA       
d.       Perguruan Tinggi

2.      Berapa lama melakukan usaha peternakan kambing PE?
a.       < 5 tahun
b.      5 – 10 tahun
c.       10 – 15 tahun
d.      > 20 tahun
Identifikasi Usaha
3.      Berapa jumlah  kambing PE sekarang)?
4.      Berapa jumlah kambing yang sedang produksi ?
5.      Berapa produksi rata-rata perhari?
6.      Berapa jumlah kambing yang memiliki produksi tertinggi?
7.      Berapa lama masa produksi kambing PE yang bapak kelola?
8.      Kemana tempat pemasaran susu kambing PE ini?
9.      Berapa harga per liter susu kambing PE ini?
10.  Berapa jumlah tenaga kerja yang dipakai di usaha yang bapak kelola?
11.  Berapa upah untuk tenaga kerja pada usaha peternakan ini?
12.  Apa saja kendala dalam melakukan usaha kambing PE ini?
13.  Bagaimana dampak usaha ini terhadap kehidupan masyarakat sekitar? 
14.  Apa teknologi yang diterapkan di usaha ini untuk meningkatkan produksi?
15.  Berapa jumlah pesaing usaha ?
16.  Bagaimana cara menghadapi pesaing tersebut?
17.  Apakah perusahaan yang bapak pimpin memiliki pembukuan tentang managemen keuangan?
18.  Apakah ada kariawan yang bertugas dibidang pembukuan managemmen tersebut?
19.  Apa ada pelatihan yang diberikan tentn manajemen di perusahaan bapak?
20.  Apakah ada tim audit untuk perusahaan bapak?















Lampiran 1. Data identitas peternak kambing PE di Kabupaten Tanah Datar
 dan Kabupaten Limapuluh Kota
No
Responden
Umur
(Thn)
Pendidikan
           Pekerjaan

Utama
Sampingan
Lama usaha
1
Pimpinan
PT Reanindo
Perkasa





2
Angota
Kelompok
Tani Ciboluk





3
Peternak
Bapak Muklis








Lampiran 2. Kepemilikan ternak kambing PE responden peternak kambing
PE di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
          Induk
Dara
Jantan
Muda
          Anak
Jumlah
(ekor)
Laktasi
Kering
Jantan
Betina
1







2







3






























Lampiran 3. Biaya tetap selama satu tahun peternak kambing PE di
Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
Ternak
 (Rp)
Kandang
(Rp)
Peralatan
(Rp)
Sewa Tanah
(Rp)
Total
(Rp)
1





2





3




























Lampiran 4. Biaya tidak tetap selama satu tahun peternak kambing PE di
Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
Pakan
 (Rp)
Tenaga Kerja
(Rp)
Listrik
(Rp)
Lain – lain
(Rp)
Total
(Rp)
1





2





3




























Lampiran 5. Total modal responden peternak kambing PE di
Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
Modal Tetap
 (Rp)
Modal tidak
 Teta p
(Rp)
Total
(Rp)
Bunga Modal
(Rp)
1




2




3


























Lampiran 6. Biaya tetap selama satu tahun peternak kambing PE di
Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
                 Penyusutan
Sewa
Tanah
(Rp)
Bunga
Modal
(Rp)
Total
(Rp)
Ternak
Kandang
Peralatan
1






2






3




























Lampiran 7. Penerimaan selama satu tahun responden peternak kambing
PE di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No
Resp
Produksi
Susu (ltr)
Harga /ltr
(Rp)
           Penerimaan
Total (Rp)
Susu
Ternak
1





2





3




























Lampiran 8. Pendapatan  selama satu tahun responden peternak kambing
PE di Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Limapuluh Kota.
No Responden
Penerimaan (Rp)
Total Biaya (Rp)
Pendapatan (Rp)
1



2



3




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar